|
| Islamic Center Bangkitkan Umat |
| berita-nasional | |
|
Senin, 27 Juli 2009 pukul 07:50:00 http://www.republika.co.id/berita/65034/Islamic_Center_Bangkitkan_Umat
Din menambahkan, Islam adalah agama kemajuan. Untuk itu, kata dia, umat Muslim harus menunjukkan dan membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang maju dan dapat bersaing. Selain itu, papar Din, Islam adalah agama perdamaian yang mengajarkan kasih sayang. ''Sebab, Rasulullah SAW diutus ke bumi ini untuk menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia,'' ungkap Din yang tampak menggunakan peci berwarna merah khas Libya. Din juga menyambut kehadiran Qaddafy Islamic Center yang dibiayai World Islamic Call Society (WISC)--organisasi dakwah Islam Internasional yang berpusat di Tripoli, Libya. Wakil Ketua Umum MUI itu berharap, keberadaan Qaddafy Islamic Center yang dilengkapi dengan masjid, perumahan, dan pesantren di bawah naungan Yayasan Azzikra itu dapat menjadi sebuah kota mini yang islami. ''Saya berharap ini bisa menjadi uswah hasanah (contoh yang baik) bagi umat Muslim di Indonesia,'' papar Din. Qaddafy Islamic Center diresmikan langsung oleh Pimpinan WICS, Dr Mohamed Ahmed Sherif. Dalam pidatonya, Ahmed Sherif, menyampaikan salam hormat dari Pemimpin Besar Libya, Muammar Qaddafy, bagi umat Islam di Indonesia. Ahmed Sherif mengungkapkan, pihaknya memberikan bantuan dana untuk pembangunan Qaddafy Islamic Center, karena Majelis Zikir Azzikra pimpinan Ustaz Muhammad Arifin Ilham itu telah banyak memberikan kontribusi bagi dakwah Islam di Indonesia. Ia mengaku sangat bergembira melihat para jamaah yang hadir dalam peringatan Isra Mi'raj dan Zikir Nasional, sekaligus peresmian Qaddafy Islamic Center bukan saja dari Indonesia, melainkan hadir juga dari berbagai negara di dunia. Ahmed Sherif menilai, aktivitas keislaman yang dilakukan majelis-majelis zikir sebagai sebuah tanda dan fenomena kebangkitan umat Islam. Menurutnya, Islam tidak hanya sekadar kata, tetapi juga harus dibuktikan dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Islam. ''Majelis zikir juga sebagai penyadaran kepada umat Islam untuk selalu mengingat asma Allah,'' paparnya. Menurutnya, metode dakwah yang dikembangkan majelis zikir mengajarkan umat agar tidak menjadikan hamba Allah yang ekstrem dan fanatis. ''Sebab, tindakan ini (ekstrem dan fanatis--Red) akan menghancurkan Islam. Berdakwaklah dengan hikmah dan ajaran yang baik,'' ungkap Ahmed Sherif. Islam, kata Ahmed Sherif, adalah agama kedamaian dan agama perjuangan. Tak hanya itu, Islam juga merupakan agama yang mengajarkan kerja sama, keadilan, serta kasih sayang kepada sesama manusia di muka bumi ini. ''Islam merupakan pedoman hidup umatnya.'' Pada kesempatan itu, Pimpinan Majelis Zikir Azzikra, Ustaz Muhammad Arifin Ilham, berterima kasih kepada WICS yang telah menyumbangkan dana untuk mendirikan Islamic Center di Bukit Azzikra tersebut. Menurut Arifin, zikir merupakan amalan dari lubuk hati yang terdalam. ''Maka, jadikanlah hati itu sebagai raja dalam menjalani hidup ini. Sebab, Allah senang dengan hambanya yang menyebut asma-Nya,'' ujar Arifin sebelum mengawali zikir bersama. |
|
| < Prev | Next > |
|---|
Doa Malaikat JibrilYa Allah tolong abaikan ummat Nabi Muhammad SAW apabila sebelum memasuki Ramadhan dia belum: 1. Memohon maaf kepada kedua Orang Tua (jika masih ada). 2. Bermaaf-maafan antar suami istri 3. bermaaf-maafan dengan orang lain disekitarnya kemudian Rosulallah mengaminkannya 3 kali. |
|
| Read more... |
| Pranala |
|
CATATAN DAN TEMUAN PENTING PROGRAM GENDER EQUALITY Oleh: Edy Safitri Program Gender Equality yang berlangsung tiga tahun ini, bukanlah tanpa catatan, baik pada level institusi, mitra maupun pada level komunitas. Program ini melibatkan banyak elemen; Kelompok Kajian Keagamaan di lima agama, Kantor Urusan Agama (KUA), DPRD DIY, Departemen Agama (Depag), Kantor Pemberdayaan Perempuan (KPP) sekarang berubah menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM), sejumlah NGO yang fokus pada isu-isu perempuan, Ormas keagamaan dan Masyarakat Umum.Banyaknya elemen yang terlibat ini, realisasinya pun tidak luput dari kendala-kendala. Misalnya saja dalam penentuan keterwakilan tokoh agama perempuan yang akan menjadi Community Organizer (CO) ataupun narasumber. Ternyata tidak mudah mencari tokoh agama perempuan, terutama untuk Buddha, Hindu dan Katolik. Dari sini saja bisa disimpulkan, indikasi ketidakadilan jender bukan saja berlangsung di masyarakat luas, tetapi juga dalam lembaga-lembaga agama. Menurut peneliti, perlu menjadi bahan refleksi untuk ditindaklanjuti tentang peranan perempuan di dalam lembaga-lembaga agama. Ini sekadar contoh dari kendala (yang) secara teknis dihadapi. |
|
| Read more... |