Pusat Studi Islam UII

You are here: Home arrow Civic Education
Tulisan Terkait
Advertisement
 
CIVIC EDUCATION PROGRAM

|  Seminar  |  FGD  |  Workshop | Retreat to Revise | Launching |


A. Latar Belakang
Selama ini banyak kalangan yang mempertanyakan apa kontribusi agama (Islam) terhadap pembentukan civil society. Skeptisisme terhadap agama seperti ini sering muncul karena agama tampil dengan "wajah yang kurang ramah" terutama apabila berhadapan dengan agama dan umat lain.

Setidaknya ada dua "pekerjaan besar" atau tantangan bagi agama dan kalangan agamawan dalam menghadapi realitas sosial kontemporer. Pertama, tantangan pluralitas yang tidak hanya dalam bentuk pluralitas agama, tetapi juga pluralitas ideologi, ras, budaya, dan sebagainya. Dalam konteks masyarakat yang semakin mengglobal (global community) batas-batas primordial yang selama ini diakui semakin sirna, namun seringkali menimbulkan friksi dan konflik karena banyaknya kepentingan yang bermain terutama kepentingan ekonomi dan politik. Aspek-aspek primordial seperti agama, ras, dan ideologi merupakan sarana yang dapat digunakan untuk menggalang solidaritas massal ketika konflik itu terjadi, sehingga timbullah berbagai macam chaos yang berlatar belakang agama, ras, atau ideologi.

Dalam konteks Indonesia, pluralitas agama merupakan persoalan tersendiri yang harus dikelola menjadi energi positif, sebab dalam masyarakat Indonesia yang multikultural dan multireligius, agama dan unsur-unsur kesukuan dan ras sering digunakan sebagai pemicu terjadinya berbagai kerusuhan di tanah air. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang cenderung Eksklusif, fundamentalis, radikal, dan fanatik yang berlebihan harus diminimalisir dengan mengadakan berbagai pendekatan terutama dengan pendekataan keagamaan itu sendiri. Pluralisme agama hanya dapat diatasi dengan lebih mengedepankan ajaran-ajaran yang sarat dengan ajaran toleransi dan penghargaan terhadap manusia dan kemanusiaan.

Kedua, Tantangan agama dalam menjawab modernisme dengan segala efek yang ditimbulkannya, seperti rasionalisme, perubahan perilaku masyarakat dan lingkungan. Agama dituntut untuk dapat mengatasi berbagai nestapa kemanusiaan dan lingkungan yang ditimbulkan oleh adanya modernisme dan developmentalisme. Di satu sisi agama harus dapat menyesuaikan dirinya dengan perkembangan yang ada, namun di sisi lain agama juga harus memberikan panduan etis dan moral agar modernisme tidak menjadi "monster" yang berakibat negatif bagi manusia dan lingkungan.

Dalam pengembangan civil society, agama seharusnya turut memberikan peranan yang signifikan. Dengan memakai paradigma baru, penggalian nilai-nilai keadaban (civic values) dalam ajaran agama serta penerjemahan kembali norma-norma keagamaan secara kontekstual akan mampu membawa agama sebagai faktor yang dominan dalam pembentukan masyarakat yang berkeadaban tersebut.

Usaha tersebut antara lain dapat dilakukan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal karena lembaga pendidikan merupakan lembaga yang strategis bagi penggalian dan pengkajian nilai-nilai keadaban dalam ajaran-ajaran agama tersebut, sekaligus sebagai "ladang yang subur" bagi penyemaiannya terhadap para peserta didik.

 

e-Pustaka

Kolom Kang Toha

Workshop Pembahasan “Dokumen Pendirian, Pengelolaan, dan Pemenuhan Optimal KJJ”
Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia Bekerjasama dengan Cordaid

ImageAssalamu ‘alaikum wr. wb
Salam Damai dan Sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati,
Peserta Workshop yang mewakili lembaga keagamaan dan jejaring PSI UII,
Alhamdulillahi rabbil alamin, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT., karena atas rahmat dan kehendak-Nya kita dapat berkumpul di ruang ini, dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Amin.
Rencana pendirian, pengelolaan, dan pemenuhan optimal “Kuliah Jender Jogja” Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia merupakan bagian program “Setara Jender Lintas Iman dalam Keluarga” tahun IV, kerjasama PSI UII dengan Cordaid. Latar belakang penetapan program KJJ ini merupakan tanggung jawab dan tanggung gugat PSI UII untuk menumbuhkan pemahaman dan sikap keagamaan adil-jender berbasis lintas-agama di masyarakat melalui pendidikan masyarakat. Sebagai kelanjutan program tahun I-III, ukuran keberhasilan kinerja KJJ terletak di dalam tatakelola dan kebermaknaan program dimaksud sebagaimana perencanaan strategis yang telah ditetapkan.
Read more...
 

Polling Minggu Ini

Setuju atau tidakkah anda pemberlakuan RUU yang menampung pasal tentang nikah sirri dan nikah mut'ah
 

Statistik

Visitors: 341501
We have 20 guests online

Community Development

Pranala

Jepretan

Risalah Demangan

Making Dialogue to Counter Stereotypes of Islam
Oleh: M. Latif Fauzi

m latif fauzi

The tragedy of 9/11 that occurred nine years ago influenced the way how Western people regard the existence of Islam and Muslims. An expert of Islam, John L. Esposito, said that the incident has destroyed constructive relation between Muslim and other religious adherents.
Due to the concept of jihad, many people in the West then regard Islam as a religion that teaches violence and produces extremists, or even terrorists. The problem rather lies on their preconception and ignorance on what actually Islamic doctrines are. Their understanding has its basis from some stereotypes figured in media.
The first stereotype is that Muslims are terrorists. This stereotype came up after the bombing attack at the World Trade Centre and the Pentagon on September 11 2001. The US government accused a Laden’s group, al-Qaeda, as the actor behind this incident. Terrorist is used to label them. This label now seems very common to be addressed to Muslim generally.
Read more...
 

Pranala Dalam

Pranala luar