|
| Kebersamaan Beragama di Dusun Ngepeh |
| berita-nasional | |
|
Rabu, 9 September 2009 | 04:31 WIB http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/09/04310117/kebersamaan.beragama.di.dusun... Pagi itu, sejumlah warga hilir mudik bekerja, sekalipun tak ada perintah karena Kepala Dusun Ngepeh Sumitro (56) tengah ke Pare, Kediri, untuk berdagang. Mereka seperti sudah saling paham dengan tugas masing-masing yang didedikasikan untuk prosesi pemakaman warga bernama Suparmin (75). Bagi warga, kedukaan satu orang adalah duka bersama, tanpa memandang agama. ”Tata cara pemakaman tetap sendiri- sendiri, sesuai agamanya,” kata Adenan (83), penganut agama Kristen, yang ikut bersiap di rumah duka sebelum pemakaman Suparmin yang memeluk agama Islam. Menyatunya warga tidak hanya direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pemakaman pun dibuat dalam satu lokasi. Yang membedakan makam mereka hanyalah letak jenazah atau posisi batu nisan. Bagi pemeluk Islam dan Hindu, letak jenazah membujur dari arah utara menuju selatan. Hal ini memungkinkan makam kedua penganut agama tersebut berdekatan. Sementara itu, bagi penganut Kristen, tata cara pemakaman jenazahnya membujur dari barat ke timur, membuat lokasi makam terpisah. Herry Fitrianto (26) mengatakan, contoh terbaik dari adanya kebersamaan antarumat di dusun itu memang terlihat saat ada warga yang meninggal dunia. ”Pokoknya, setiap ada warga yang meninggal pasti banyak yang datang (terlibat). Apakah mereka umat Islam, Kristen, atau Hindu,” katanya. Anak Kepala Dusun Sumitro itu menambahkan, kekerabatan yang demikian baik tersebut membuat mereka merasa nyaman. ”Tidak pernah ada keributan yang berdimensi agama,” kata Herry, bangga. Sekitar 70 persen penduduk dusun tersebut beragama Islam, 20 persen beragama Kristen dan Katolik, sedangkan 10 persen selebihnya adalah pemeluk agama Hindu. Kentungan Menurut Nur Alim Wahyudi (65), pemuka Hindu di dusun tersebut, instrumen penting yang bisa membuat warga berkumpul dengan kompak dalam waktu singkat adalah kentungan kayu yang digantung di depan rumah Kepala Dusun. ”Jika kentungan bunyi, tanpa dikomando warga seperti punya kewajiban. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang beragama apa pun langsung keluar rumah. Sementara, yang bekerja di sawah akan berhenti bekerja,” cerita Nur. Meski demikian, Nur tak tahu kapan persisnya kerukunan terbentuk di dusun itu. ”Pokoknya sudah lama sekali,” katanya, senada dengan warga lainnya. Untuk melestarikan kerukunan itu, pada 1998 didirikan Paguyuban Budi Luhur. Konon, sejumlah pemuka agama di dusun itu merasa khawatir saat sejumlah konflik bernuansa agama muncul di berbagai wilayah Nusantara. Tiga tahun setelah itu, tahun 2001, warga mendirikan radio komunitas bernama Suara Budi Luhur yang memiliki izin frekuensi di gelombang FM 107,7, dengan radius jangkauan siar sekitar 30 kilometer. Upaya yang patut diapresiasi. |
|
| < Prev | Next > |
|---|
|
Workshop Pembahasan “Dokumen Pendirian, Pengelolaan, dan Pemenuhan Optimal KJJ” Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia Bekerjasama dengan Cordaid Assalamu ‘alaikum wr. wbSalam Damai dan Sejahtera bagi kita semua, Yang saya hormati, Peserta Workshop yang mewakili lembaga keagamaan dan jejaring PSI UII, Alhamdulillahi rabbil alamin, Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT., karena atas rahmat dan kehendak-Nya kita dapat berkumpul di ruang ini, dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Amin. Rencana pendirian, pengelolaan, dan pemenuhan optimal “Kuliah Jender Jogja” Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia merupakan bagian program “Setara Jender Lintas Iman dalam Keluarga” tahun IV, kerjasama PSI UII dengan Cordaid. Latar belakang penetapan program KJJ ini merupakan tanggung jawab dan tanggung gugat PSI UII untuk menumbuhkan pemahaman dan sikap keagamaan adil-jender berbasis lintas-agama di masyarakat melalui pendidikan masyarakat. Sebagai kelanjutan program tahun I-III, ukuran keberhasilan kinerja KJJ terletak di dalam tatakelola dan kebermaknaan program dimaksud sebagaimana perencanaan strategis yang telah ditetapkan. |
|
| Read more... |
| Pranala |
|
Mengkaji Buku Oleh: Imam Samroni Kajian pertama, Rabu, 10 Maret 2010, adalah buku “Kata Serapan Bahasa Arab dalam Serat Centhini: Kajian Morfosemantis” (Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2010) yang merupakan disertasi Dr. Junanah, MIS. Bertindak sebagai pengkaji adalah GKR Wandansari, Pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang juga anggota Komisi II DPR RI. Kajian yang kedua, Kamis, 18 Maret 2010, adalah buku “Yurisprudensi Peradilan Agama (Studi Pemikiran Hukum Islam di Lingkungan Pengadilan Agama se-Jawa Tengah dan Pengadilan Tinggi Agama Semarang, 1991-1997)” (Jakarta, Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2006) yang merupakan disertasi Prof. Dr. H. Amir Mu’allim, M.A. Pengkajinya adalah Drs. H. Chatib Rasyid, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang. |
|
| Read more... |